5 Dysfungtions of a Team.
Lima Disfungsi Tim adalah sebuah model, bukan sebuah kecaman. Hampir setiap tim mengalami beberapa level dari disfungsi ini. Kuncinya adalah kesadaran dan kemauan untuk secara disengaja membangun fondasi yang kuat. Sebuah tim yang berhasil bukanlah tim tanpa konflik atau masalah, tetapi tim yang memiliki kepercayaan dan mekanisme untuk mengatasi setiap disfungsi ini, sehingga energi mereka mengalir penuh untuk meraih hasil bersama. Selanjutnya...
1/11/20262 min read


Rismanto, 11 Januari 2026
Sering kita lihat sebuah tim yang tampaknya berisi orang-orang berbakat, tapi hasil kerjanya selalu mengecewakan. Target tidak tercapai, atmosfernya tegang, dan rasa frustrasi ada di mana-mana. Apa yang salah?
Menurut model "5 Dysfunctions of a Team" oleh Patrick Lencioni, masalahnya bukan pada individu, tetapi pada dasar fondasi hubungan dan proses dalam tim yang rapuh. Kelima disfungsi ini saling terkait seperti sebuah piramida. Jika fondasi bawahnya rapuh, seluruh struktur di atasnya akan goyah.
1. ABSENNYA KEPERCAYAAN ( Absence of Trust )
Ini adalah fondasi segala masalah. Bukan kepercayaan bahwa rekan akan menyelesaikan tugasnya, tetapi kepercayaan pada tingkat
vulnerability (keberanian untuk terbuka).
Tim yang tidak memiliki kepercayaan ini:
Menyembunyikan kelemahan dan kesalahan.
Enggan meminta bantuan atau umpan balik.
Cepat menyalahkan dan defensif.
Tidak mau meluangkan waktu untuk mengenal satu sama lain secara pribadi.
Akar Masalahnya : Rasa takut untuk terlihat "tidak mampu" di depan rekan. Tanpa fondasi ini, tim tidak mungkin maju ke tahap berikutnya.
2. TAKUT AKAN KONFLIK ( Fear of Conflict )
Karena tidak ada kepercayaan, tim menghindari konflik ide yang sehat dan produktif. Mereka menyamakan konflik dengan pertikaian
pribadi.
Tim yang takut akan konflik :
Rapat-rapatnya membosankan dan tidak ada "debat" Produktif.
Masalah nyata justru dibahas di belakang (koridor, gosip).
Mengorbankan kebenaran dan ide brilian demi "kesopanan semu".
Keputusan yang diambil seringkali bukan yang terbaik, tapi yang paling tidak diperdebatkan.
Hasilnya : Banyak ide tidak tereksplorasi, dan keputusan yang diambil lemah.
3. KURANG KOMITMEN ( Lack of Commitment )
Tanpa konflik yang sehat, orang-orang tidak merasa ide mereka didengarkan. Akibatnya, mereka tidak merasa memiliki (buy-in)
terhadap keputusan akhir.
Tim yang kurang komitmen:
Kabur tentang arah dan prioritas.
Takut untuk salah, sehingga analisis berlebihan dan penundaan terjadi.
Sering "menggali kuburan" keputusan lama saat ada rintangan.
Tidak bisa move on dengan percaya diri.
Kunci komitmen bukan pada konsensus mutlak, tetapi pada kejelasan dan suara yang didengar. Tanpa komitmen, tidak ada akuntabilitas.
4. MENGHINDARI AKUNTABILITAS ( Avoidance of Accountability )
Ketika orang tidak komit pada sebuah rencana, mereka enggan menegur rekan satu tim yang performanya mengecewakan atau
melanggar standar.
Tim yang menghindari akuntabilitas:
Mentolerir kinerja yang di bawah standar.
Menciptakan rasa frustrasi dan ketidakadilan di antara anggota yang rajin.
Memberi beban berlebih pada pimpinan sebagai satu-satunya "penegur".
Standar kinerja tim menjadi rendah.
Akuntabilitas sejati adalah peer-to-peer. Ini adalah bentuk saling peduli untuk menjaga standar kolektif.
5. ABAI TERHADAP HASIL ( Inattention to Results )
Disfungsi puncak ini terjadi ketika anggota tim lebih mementingkan kebutuhan individu (ego, karier, reputasi departemen)
dibandingkan tujuan kolektif tim.
Tim yang abai pada hasil:
Status dan ego individu lebih penting daripada target tim.
Mudah teralihkan oleh "kesibukan" yang tidak berkontribusi pada outcome.
Kehilangan semangat kompetitif dan puas dengan "mediokritas".
Pada akhirnya, kalah dari tim atau pesaing lain yang lebih solid.
Ini adalah disfungsi akhir yang mematikan, karena energi tim tersedot untuk hal-hal yang tidak menghasilkan kemenangan bersama.
